Resensi : Sumayyah binti Khabath Syahidah Pertama

Standar

Judul                     : Sumayyah binti Khabath Syahidah Pertama

Penulis                 : Ridha Anwar

Editor                    : Yani

Ilustrasi                : Pixelmint

Penerbit               : Gema Insani

ISBN                      : 978-602-250-0834

Cetakan Pertama, Jumaidil Awwal 1434 H – Maret 2013 M

PhotoGrid_1498088589883

24 halaman

Ketika bermunculannya karakter super heroes atau karakter fantasi anak yang akhir-akhir ini banyak digandrungi, pengenalan tokoh-tokoh nyata dalam dunia keislaman di zaman Rasulullah sangatlah perlu. Untuk mengimbangi apa yang mereka lihat dan mereka tonton pada saat ini.

 

Mungkin bagi sebagian orang, anak-anak atau pun dewasa, termasuk saya 😀 , belum mengetahui siapakah sebenarnya bunda Sumayyah dan perjuangann yang telah dilakukan olehnya.

Buku ini merupakan satu dari sepuluh (10) buku yang merupakan seri dari kisah shahabiah yang diterbitkan oleh Gema Insani. Ketika membeli buku ini, puteri bungsu saya menjatuhkan pilihannya kepada buku ini. Memang pilihan yang tepat, buku ini  selain bisa dibaca untuk anak usia sekolah, bisa juga untuk anak saya yang usianya masih di bawah lima tahun.

Setiap halaman memuat ilustrasi yang besar memenuhi setiap halamannya. Tulisan yang disajikan tidak terlalu banyak, sehingga untuk anak-anak usia pra sekolah, dapat membaca gambar di dalam buku ini. Tentu dengan bantuan orang tua atau orang dewasa yang dapat menjelaskannya.

Buku ini pun dimulai dengan alur cerita masa kini. Komunikasi anak-anak sekolah sehabis pulang sekolah. Layaknya anak-anak yang dapat menceritakan kembali apa yang orang tuanya ceritakan, si dalam buku ini terdapat alur cerita ke masa silam membawa cerita tersendiri kepada keluarga Summayah yang diuji keimanannya.

 

Banyak pesan moral yang bisa kita ambil hikmah dibuku ini,  tentu hal ini  butuh penjelasan dari orang tua atau dewasa yang membacakan untuk anak-anak usia pra sekolah.  Hikmah di dalam buku ini adalah mengenai kasih kepada sesama dan tentang perjuangan keimanan seorang muslim.

Walaupun buku ini merupakan buku dari seri kisah shahabiyah, bukan berarti anak putera tidak bisa membacanya lho.. di dalam buku ini bukan hanya digambarkan komunikasi anak-anak perempuan tetapi juga anak laki-laki dengan teman seusianya. Ini berarti bahwa Anak-anak laki-laki pun bisa ikut membacanya. Jadi buku ini bukan buku yang ‘perempuan’ sekali.

 

Pada halaman depan, terdapat tulisan di pojok kiri yang menyebutkan bahwa buku ini berbonuskan mini dictionary. Pada awal saya membuka buku in,i saya bolak-balik, saya lihat di tengah buku pun tidak terselip dictionary. Dan… ternyata mini dictionary yang dimaksudkann adalah kata-kata yang tersemat di bawah, tersemat pada setiap  dua halaman. Kata-kata tersebut ada dalam tiga bahasa: bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab {serta ejaan pelafalan). Untuk iming-iming bonus mini dictionary ini cukup mengecoh bagi saya hehe.

Tapi di sisi lain, kata-kata sederhana yang diterjemahkan dalam tiga bahasa ini dapat sekaligus mengenalkan dan mengajarkan anak, bahasa Arab dan Inggris. Contoh dari kata yang terdapat dalam mini dictionary buku tersebut salah satunya adalah matahari = sun = syamsun.

Selain alur cerita yang dibuat di masa lalu dan masa kini, buku ini juga memuat fakta sejarah tentang keluarga bunda Sumayyah. Buku ini bisa mengenalkan sosok-sosok pejuang Islam di zaman Rasululloh bukan hanya kepada anak-anak tapi juga kepada orang dewasa yang membacanya. Bisa jadi apabila kita pernah mendengarkannya di sebuah kajian keislaman fakta sejarah ini yang membuat kita mengingatkan kembali dengan kisah detail keluarga Sumayyah. Buku ini pun menyebutkan buku-buku yang menjadi  referensi  tentang sejarah keluarga Sumayah, sehingga apabila kita mau mengkaji lebih dalam lagi, kita tahu harus mencari buku apa untuk lebih detail mengenal  keluarga sumayyah ini.

 

Buku ini sangat layak dijadikan buku referensi di perpustakaan keluarga. Dari lima bintang, saya beri empat bintang untuk buku ini.

 

Yuk kita ‘terbang’ untuk menuai hikmah di masa silam.

 

Resensi : Ayo Berkreasi Menyambut Hari Raya Islam

Standar

PhotoGrid_1498087609737

 

Judul                     :  Ayo Berkreasi menyambut Hari Raya Islam

Penerbit              : Erlangga for Kids

Penulis                 : F.F.A Riyadi

Tim Kreatif          : Nabila, Sari, Reri S.R.

Editor                    : Kiki Sulistiyani

ISBN                       : 979-781-113-1

32 Halaman

 

 

Siapa yang tidak senang menyambut hari raya islam, anak-anak sampai orang tua. Hari dimana silaturahmi dan takbir berkumandang. Anak-anak suka cita, orangtua penuh senyum di wajahnya. untuk menyambut hari besar itu, bisa kok kita buat banyak hiasan dan aneka kreasi yang dapat sama-sama kita buat bersama si kecil.

 

“Dari buku ini, kamu pasti akan mendapatkan banyak ide-ide kreatif membuat prakarya yang bernafaskan Islam! Ditemani Uli si Unta dan Doli si Domba, kamu akan diberi petunjuk satu per satu bagaimana membuat berbagai hiasan indah yang ternyata sangat mudah dan sangat istimewa.”

 

Buku ini merupakan satu dari sekian banyak seri Ayo Berkreasi yang diterbitkan oleh Erlangga for Kids. Buku yang penuh dengan taburan bintang, bisa kita lihat dari mulai cover yang sangat menarik dan juga hampir di setiap halaman. kalau saya lihat cover ini, pikiran saya menjelajah kepada masa-masa kecil saya ketika handphone belum ada. Menunggu pak pos tiba, tukar-tukar kartu lebaran bersama teman-teman. Walaupun ada sebagian kartu pos yang diterima, merupakan kartu pos percetakan, tapi ada juga beberapa yang merupakan kartu-kartu lebaran hasil kreasi sendiri.

 

Dari buku ini, mengasah pembaca untuk bukan saja membuat kreasi-kreasi kartu tapi juga hiasan-hiasan yang dapat kita taruh di sudut-sudut rumah. Seperti ketupat warna-warni yang bisa kita taruh di dinding atau di parcel lebaran, beduk kecil yang bisa kita taruh di meja tamu, atau juga rantai bulan-bintang yang bisa kita taruh di depan kamar si kecil.

Kreasi ini juga sebenarnya bisa mempunyai nilai edukasi tersendiri untuk anak-anak yang belum faham betul apa itu hari raya agama Islam. Membuat mereka lebih semangat untuk menyambutnya. Di dalam buku ini terdapat enam belas (16) contoh kreasi untuk menyambut hari raya Islam. Selain itu di dalamnya juga terdapat dua halaman sticker yang bisa dikreasikan bersama kreasi yang kita buat. Untuk anak-anak saya yang masih balita dan belum banyak bisa berkreasi dengan bentuk-bentuk sempurna, sticker ini menjadi ‘hadiah’ yang cukup menarik di buku ini.

Bentuk dari stickernya sangat lucu, ada masjid, bunga, ketupat, unta, domba dan banyak hal yang berkaitan dengan sesuatu yang mencirikan keIslaman dan ketimurtengahan.

Seperti layaknya buku tutorial, didalam buku ini ditampilkan bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat suatu kreasi dan juga cara lengkap dengan ilustrasi-ilustrasi yang mendetail. Untuk anak usia sekolah dasar, ilustrasi ilustrasi yang diberikan cukup jelas dan sederhana.

 

Sedangkan, untuk usia pra sekolah, membentuk aneka kreasi seperti bebek, domba, untua, rumput mengajarkan mereka untuk menambah kosa kata dan nama-nama hewan. Sebagai orang tua kita juga bisa menjelaskan tentang ekosistem tersebut, contohnya, di mana biasanya domba hidup, di mana biasanya unta hidup dll.

Kreasi-kreasi yang menarik ini juga bisa dijadikan kegiatan yang positif saat bulan ramadhan lho, apalagi saat menunggu adzan Magrib berkumandang. Atau yang biasa disebut dengan ngabuburit.

Dari sekian banyak contoh kreasi yang disajikan di buku ini, semuanya terlihat menggunakan barang-barang baru. Padahal bisa juga memanfaatkan kreasi-kreasi daur ulang yang bisa kita manfaatkan dari barang-barang bekas di rumah semisal kardus susu, perca kain dsb.

Foto-foto asli yang disajikan di buku ini jg sangat bagus dan menarik. bagi saya buku ini sangat semarak, mengingatkan bahwa waktu hari raya agama islam adalah waktu-waktu yang sangat spesial.

Dari lima bintang saya kasih 4 bintang untuk buku ini.

Sebentar lagi hari raya umat islam akan tiba. Tertarik untuk mencobanya?

 

Nia R

170617

Resensi : Benda-benda yang Bisa Mulur & Mengerut

Standar

200285730_xl

Judul Buku          : BENDA-BENDA YANG BISA MULUR & MENGERUT

Penulis                  : Kee Hwa Jang

Ilustrator             : Soon Young Kim

Judul Asli             : It Streches and Shrinks

Penerjemah        : Rosi L. Simamora

Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN                      : 978-979-22-6108-0

Diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, September 2010

 

“Tahukah kau ada benda-benda yang bisa mulur dan mengerut? Sol Sepatu, sarung tangan karet juga ketapel adalah contoh-contohnya.”

“Bisakah kau menyebutkan apa lagi? Yuk kita mengenal benda-benda lain yang bisa mulur dan mengerut.”

 

Benda-benda yang bisa mulur dan mengerut banyak terdapat di kehidupan kita, di rumah, di sekolah, di tempat bermain, dan di sekeliling kita. Untuk mengenalkan benda-benda yang bisa mulur dan mengerut kepada anak, inilah buku yang tepat.

Buku ini adalah buku Seri Ilmuan Cilik yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Seri Ilmuan Cilik mengajak anak-anak bertualang sambil bercerita lewat cerita sehari-hari yang konyol.

Buku ini bisa dibaca oleh segala usia, terutama anak-anak. Dengan ilustrai yang menarik, buku ini membuat para pembaca mudah sekali memahaminya. Ilustrasi yang besar-besar dengan penggambaran karakter yang lucu mudah difahami anak. Tulisan yang terdapat dalam buku ini pun singkat-singkat, sehingga anak usia dibawah lima tahun pun, atau anak-anak yang belum bisa membaca, dapat membaca lewat ilustrasi menarik yang pada akhirnya mudah untuk difahami.

 

Isi dari buku ini sangat relefan dengan kehidupan anak, benda benda yang mulur dan mengerut digambarkan banyak terdapat di rumah dan di tempat tempat bermain anak. Seperti sol sepatu, sarung tangan karet, pegas  pada tempat tidur, karet di celana ayah, dll.

Bagi saya, sebagai pencerita bagi dua orang anak saya yang balita dan belum bisa membaca, bagian yang paling saya suka adalah ketika menerangkan karet di pinggang celana ayah dan pegas pada tempat tidur. Anak-anak saya tertawa riang, ketika mereka saya suruh untuk mempraktekan apa yang ia lihat dan ia dengar dari cerita saya tentang buku ini.

PhotoGrid_1497569584346.jpg

Saya menyuruh mereka berdiri lalu saya menarik karet dipinggang celana tidur mereka. Mereka tertawa sambil mendengarkan pengertian tentang benda benda yang dapat mulur. Lalu, saya juga menyuruh mereka untuk lompat-lompat di kasur berpegas. Toong-toing. Mereka tertawa. Saya jelaskan kembali, di dalam tempat tidur yang mereka lompati terdapat pegas. Pegas tersebut dapat mengerut dan kembali seperti semula jika tidak dilompati. Di dalam buku ini juga, dijelaskan akibat yang bisa didapatkan apabila terlalu sering loncat di atas kasur yang berpegas.

Selain itu masih banyak lagi benda benda yang bisa mulur dan mengerut yang dijelaskan di buku ini, dengan bahasa yang sederhana, gambar-gambar yang ekspresif, dengan perpaduan warna yang menarik dilihat oleh anak.

Selain penjelasan tentang benda benda yang bisa mulur dan mengerut, buku ini juga menyertakan evaluasi. Di dalam buku ini ada gambar seorang anak yang sedang duduk di antara benda-benda yang berserakan di sekelilingnya. Tugas anak yang membaca atau mendengarkan cerita, adalah menebak benda-benda apa saja yang bisa mengulur atau mengerut.

Saat bagian evaluasi ini dibacakan kepada dua anak saya. mereka pun berlomba-lomba untuk menyebutkan benda-benda yang bisa mulur dan mengerut yang terdapat dalam gambar evaluasi tersebut, seru kan?

Sampul buku ini sangat ekfresif, ceria, penuh warna dan juga merupakan jenis sampul hard cover. Namun bagi saya ada yang sedikit kurang, seri ilmuan cilik ini tidak dituliskan rentang usia  yang kira-kira efektif untuk pembaca buku ini. Jadi menurut saya, lebih bagus lagi apabila Seri Ilmuan Cilik, dibuatkan level sehingga apabila orang tua membeli buku ini, walaupun di segel,  orang tua dapat menyesuaikan dengan usia anaknya.

Dari 1-5 bintang, Saya beri 4,5 bintang untuk buku ini.

Selamat membaca dan bercerita!

 

 

 

 

Menjadi Emak Siaga 

Standar

“Num.. Num”

Gadis kecil saya meminta minum.. Diselingi batuk-batuk. Saya pegang badannya hangat. Yang tadinya saya ngantuk banget pun akhirnya langsung cenghar -istilah sunda, semacam melotot seger-. Langsung saya ambil termometer dua buah untuk mendeteksi suhu tubuhnya. Alhamdulillahnya masih di angka 36. Saya langsung ingat untuk menyetel alarm di kelipatan-kelipatan jam. 
Saya harus menjadi ibu siaga, qaisarah pernah kejang-kejang dua kali. Yang pertama saat giginya tumbuh berjamaah dan yang kedua saat terkena diare dan akhirnya dehidrasi. 
Dokter spesialis anak qaisarah bilang, bahwa untuk anak-anak seperti anak saya yang punya kemungkinan kejang tinggi. Harus siaga dan cermat menghitung panas anak. 
Berbeda dengan ghaissan yang suhu 38 masih bisa ketawa ketawa girang, qaisarah pernah di suhu 38 koma sekian sudah kejang. 
Kata emak saya, ketika saya kecil memang saya pernah kejang. Di jalan pula. Saat menuju dokter, di dalam mobil saat  abah nyetir dan belum sampai dokter, ibu saya siap siaga dengan sendoknya. Menurut orang zaman dulu, agar lidah tidak tergigit. Saat itu saya panas tinggi memang. 
Di keluarga saya, riwayat kejang saya, kakak saya dan juga keponakan-keponakan memang tinggi. 
Untuk itu saya suka deg-degan kalau anak yang lagi bawel-bawelnya ini sakit. 
Kata dokternya qaisarah. Beri obat jika perlu obat, jika panas di atas 37,5 kalau tidak ya harus cermat menghitung kembali suhu tubuh anak. 
Cara yang kerap saya lakukan untuk menghitung suhu tubuh qaisarah adalah. 
Apabila ia panas saya harus menghitung suhunya di kelipatan 4 jam 

Misal seperti ini: 

Anak demam di jam 8(di atas 37,5 maka saya harus memberi ia obat penurun demam di jam 8 tersebut). Tunggu obatnya berekasi. Ukur kembali suhu tubuh di jam 10 malam  (karena dua jam setelah pemberian obat biasanya obatnya bereaksi, bisa dilihat naik atau cenderung turun , biasanya kalau dosis tepat dan tdk ada kesalahan obat semisal kadaluarsa di kelipatan dua jam memang sudah turun). 

Hitung kembali pada pukul 12 malam . apabila masih di angka 37,5 dan cenderung naik. Kasih kembali obat di jam 12 malam. Lalukan hal yang sama. Kalau cenderung naik terus-terusan harus segera diberi penanganan khusus rumah sakit walaupun belum kejang. 
Namun, apabila tidak ada demam lagi setelah jam 12 malam saya harus menyetel alarm di kelipatan dua jam untuk mengukur lagi suhu tubuhnya. Sebaiknya kata dokternya qaisarah, di catat agar kelihatan grafiknya apakah panasnya berjarak setiap 4 jam 6 jam atau 8 jam, atau bahkan sudah bebas panas. 

Apabila tidak demam lagi, saya harus tetap mengukur suhu tubuhnya di kelipatan jam agar tidak kecolongan dan dikatakan bebas demam jika selama 24 jam dari terakhir demam (suhu di atas 37,5) tidak lagi ada demam.  Nah biasanya saat itu saya legaaa banget.. 

Dan baru bisa tidur enak..
Beginilah ternyata jadi seorang emak, di antara kecerewetannya, di antara judes dan juteknya. Saat anak sakit tak bisalah tidur dengan sennyenyaknyenyaknya. Hatinya gelisah memikirkan si buah hati. 
Tetiba rindu emak.. 

200 Juta di Kedai Kopi

Standar

“Bang, di sini!”

Seorang pria berambut rapi memanggil Prima di kedai itu. Kedai kopi yang tak pernah sepi. Buka 24 jam setiap 7 hari kecuali di bulan suci.

Prima mendekati pria tersebut dengan langkah cepat.

“maaf telat, anak saya demam. Baru pulang dari dokter..”

“gak apa bang, soal uang kami bisa menunggu” pria berpotongan rambut rapi itu cengengesan dengan temannya yang berambut botak berkemeja kotak-kotak. Ia balik tersenyum. Kecuali Prima yang tak bisa tersenyum dengan keadaan yang menimpanya.

“jadi bagaimana bang? Tentang uang 200 juta?”

“ehm..” Prima berdehem seakan ingin melepas penat.

“saya belum cerita apa-apa ke istri, dan jujur kami pun tak punya uang sebanyak itu”

Dua lawan bicara prima saling berpandangan.

“bisa dicicil kalau abang mau”.

Prima diam tak berkata apa-apa, hanya kata-kata yang berlarian di kepala tapi tak mampu ia ungkapkan.

Hening. Kecuali suara orang-orang di sekitar kedai kopi itu.

Beberapa pertanyaan basa-basi tentang keluarga Prima keluar dari mulut mereka. Seakan ingin memecah hening dan memecah kecewa saat mereka tak jadi membawa uang 200 juta.

Beberapa saat setelahnya Prima nampak sendiri ditemani cangkir-cangkir kopi, hanya berisi seperdelapan gelas yang telah mereka seruput. Rokok di tangan prima belum juga ia hisap. Prima mengacak-ngacak rambutnya, mengusir segala kemungkinan yang ia takutkan, seandainya-seandainya yang terus menari di kepala. Terbayang Nanda dan kedua anaknya. Takut kalau…

Ah, sudahlah. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Prima bangkit berdiri. Menaruh uang di bawah gelas kopi. Menginjak puntung rokok yang tak jadi ia hisap.

###

Bajingan

Standar

IMG_20160902_053835_HDR.jpg

 

 

Beberapa tahun lalu saya mendengarkan curhatan hati  anak seorang penyair yang kerap kali membuat gerah kaum-kaum penguasa. Ayahnya diambil secara paksa oleh orang-orang yang berseragam lengkap. Hilang entah kemana, berpuluh-puluh tahun lamanya sampai sekarang belum ada kejelasan nasib atau mungkin jasadnya.

Kurang lebih 3 tahun lalu perempuan bercadar, di depan saya bercerita tentang suaminya yang dituduh sebagai teroris. Berakhir di Nusa Kambangan, dengan cacat tangan yang harus suaminya terima karena perlakuan yang tidak manusiawi. Ia harus membesarkan tiga orang anaknya sendirian. Bertahun-tahun lamanya sendiri.

Sehabis mendengarkan mereka, saya merenung, saya terpaku dengan nasib yang teman-teman saya terima. Betapa keadilan dunia tidak selalu sebanding dengan apa yang kita usahakan dan juga tak sesuai dengan apa yang kita suarakan.

Lalu saat ini, justru saya yang berjuang mendapatkan keadilan. Bukan hanya demi saya, justru saya berjuang dari awal untuk suami saya, untuk anak-anak saya.

Ini seperti mimpi buruk, yang sayangnya adalah kenyataan, yang mungkin membekas begitu dalam.

 

1 September 2016

Saya akan mencatat sebuah kegilaan saya, saya akan terus mencatat emosi yang saya keluarkan di hari itu.

Anak sulung saya menanangis ketakutan, setelah saya telpon seorang jaksa, meminta penjelasan. Lalu saya katakan mereka bajingan. Dengan suara yang amat keras, dengan tangis yang pecah, dengan emosi yang menggila, dengan seribu pertanyaan di benak saya. Lalu utamanya adalah di mana letak keadilan?

Di mana letak keadilan ketika fakta di persidangan dan penuturan para saksi jelas sekali menggambarkan siapa yang salah.

Di mana letak keadilan ketika justru sampai tingkat kasasi, sebagai terkasasi, justru hukuman orang yang bersalah lebih ringan dari pada orang yang ‘terbawa’?

Di mana letak keadilan ketika orang yang makan uang berpuluh-puluh juta, ongkang-ongkang kaki di luar, tak pernah mencium sesak bau penjara? Tak pernah tau bagaimana istrinya mencari nafkah pagi siang sore malam. Tak pernah tahu betapa sesak hati seorang ayah ketika anak masuk rumah sakit tapi tak sampai ia memeluknya.Tak pernah tau harus menjawab apa ketika berpuluh-puluh kali hingga beratus-ratus pertanyaan dari seorang anak terlontar, kenapa ayah tak pernah pulang.

Sudah lama rasanya, saya tidak teriak bajingan -atau mungkin sama sekali tidak pernah-, terlebih dengan membanting kursi besi yang kerap saya gunakan untuk menjahit. Saya membantingnya keras-keras, saya seperti orang yang lepas kendali. Rasanya ini adalah puncak dari apa yang saya pendam selama hampir setahun belakangan. Puncak dimana saya tidak mampu bersuara dengan para penguasa.

Beberapa bulan lalu, ketika saya temui para jaksa, saya beranikan diri, dengan menanahan air mata, saya katakan “3 juta tidak seanding dengan 30 juta kan pak?” mereka hanya diam, ada yang pura-pura sibuk mencari sesuatu yang entah apa, ada yang menunduk malu lalu tak tahu harus berkata apa. Karena saya yakin mereka benar-benar tahu, saat persidangan, orang yang menenyerahkan kerugian negara sebanyak 30 juta adalah orang yang harusnya berada di bui. Tapi kamilah yang menjadi tumbal. Tumbal hukum. Tumbal uang.

Mereka malah menyalahkan hakim, tidak ada urusan dengan hakim, saya rasa saya tidak sebodoh itu untuk mempercayai omongan mereka.

Ya, dari awal kasus ini saya banyak belajar hukum, meskipun awalnya saya benar-benar buta dan tak tau sama sekali tentang hukum.

Saat itu saya bilang “saya memang seorang ibu rumah tangga biasa, tapi saya tidak mau dibodoh-bodohi hukum!” . dan lagi-lagi mereka diam.

1 September 2016, ketika usai kami terima putusan kasasi Mahkamah Agung.

Saya akan catat kejadian ini, benar-benar saya catat. Agar saya selalu ingat bahwa kesakitan ini yang akan membuat keluarga kami melaju pesat. Walaupun bukan hanya urusan dunia. Tapi lebih dari itu, saya berharap pelajaran hidup juga pendekatan diri kepadaNya.

Mungkin benar seperti yang suami saya bilang ujian bertubi-tubi karena Ia ingin kami lebih banyak berdo’a, lebih banyak kami meminta kepada Nya, bukan selainNya.

Saya hanya berdo’a beri saya dan keluarga kami kekuatan, meskipun orang-orang jahat yang telah melukai keluarga kami masih tetap berkeliaran. Saya berharap kesakitan ini tetap ada, kesakitan ini tercacat di hati saya, untuk menjadi kesakitan yang bermanfaat. Menjadi tolak balik roda pemaknaan hidup yang kami dapat.

 

Semoga..

Aceh, 2 September 2016

tempat indah yang memberi seribu luka..

 

 

Awalnya juga mereka bukan apa-apa, bukan siapa-siapa

Standar

Jika saya mulai terbangun malam, ada beberapa hal yg biasanya saya kerjakan. Salah satunya stalking teman lama saya. Di mana mereka? Lalu mulai menerka nerka apa yang mereka lakukan saat ini.

Lalu saya menemukan bahwa mereka konsisten, lalu mereka sukses..

Stalking bagi saya bukan hanya sekedar kepo tak jelas atau buang-buang waktu percuma. Sebenarnya saya belajar hal hal penting dari orang-orang yang pernah atau akan memberi pelajaran baru bagi saya. Saya malas untuk stalking hal-hal yang tak perlu, terlebih kalau stalking orang yang tak mau saya stalkingin 😂 seperti orang yang pernah membuat luka di masa lalu misalkan, biarkan saja mereka jadi bagian dari perjalanan hidup saya. Bukan bayang-bayang masa lalu yang saya harus kembali korek dalam-dalam.

Mendapat kenyataan bahwa teman-teman yang pernah saya ‘tinggalkan’ (karena sempet berhenti ngesosmed dalam waktu yang cukup lama)  ternyata merea kini sudah menjadi ‘orang’ – yang telah sukses menggapai mimpinya di masa lalu.

Kebanyakan dari mereka adalah teman-teman di dunia nyata atau dunia maya yang sering berujar tentang mimpi-mimpinya baik langsung maupun lewat apa yang dituliskannya dalam blog atau tulisan-tulisan lain. Bertahun-tahun lamanya. Akhirnya banyak dari mereka yang kini saya temukan telah dapat apa yang ia impikan beberapa tahun lalu.

Awalnya mereka bukan apa-apa bukan siapa-siapa tapi karena konsisten mereka maju.

Saya belajar banyak bahwa konsisten butuh waktu, konsisten butuh ujian kesabaran, konsisten bukan kesuksesan karbitan.💪💪💪